Legenda Baru Klinting

baru klintingHari sangat cerah. Ini adalah hari dimana seekor naga kecil sedang merayakan kebebasannya. Sangat tidak enak hidup seekor naga. Naga harus kuat bertapa agar menjadi sakti. Naga adalah penjaga. Dia mempunyai kewajiban untuk menjaga ketentraman kehidupan daerahnya. Seekor Naga adalah hewan peliharaan para dewam untuk itu sejak kecil seekor naga harus mengikuti perintah para dewa, kalau tidak maka kumisnya akan dijewer sampai putus. hilangnya kumis ini menjadi hal yang memalukan jika nanti bertemu dengan naga-naga lainnya. Kembali pada naga kecil yang riang ini, dia bernama Baru Klinting. Para dewa memberikan nama Baru Klinting mungkin karena dia lahir bersamaan dengan dibuatnya genta besar untuk berkumpul. Makanya namanya klinting. Baru Klinting adalah Naga peliharaan Dewa Air atau sering disebut dewa baruna. Tugasnya adalah menjaga sumber air di puncak gunung wilis.

Baru Klinting, walau masih kecil badannya sangat besar, dia berlari sambil melompat-lompat, akibatnya goyahlah pepohonan baik kecil maupun besar. Pohon Jati yang sedang menggugurkan daun karena musim kering harus memperingatkannya.

“Wahai Naga peliharaan Baruna, janganlah kau jejakan kakimu kuat-kuat. kasihani kami pohon-pohon yang hanya bisa berdiri”

Baru Klinting hanya tersenyum memandang pohon jati yang tampak murung. lalu dia memejamkan mata dan dalam sekejap dia sudah melompat-lompat riang tanpa membuat pohon-pohon goyah. Baru klinting rupanya sudah bisa menguasai ilmu meringankan tubuh! Ah senangnya dia. Baru Klinting melompat setinggi-tingginya, dia seperti terbang! Tubuhnya yang besar bisa berada di atas daun kecil yang sedang melayang ditiup angin. Baru Klinting sangat senang, dia ikut melayang-layang. saat sedang terbang dia melihat sebuah sungai yang besar. “Ah, mungkin enak berenang”. Baru Klinting segera meluncur ke sungai. sekelompok Ikan-ikan kecil di sungai segera bubar ketika melihat bayangan besar turun jatuh ke sungai. Baru Klinting tertawa senang melihat ikan-ikan itu ketakutan. begitu badannya menapak ke air, dia langsung tenggelam. rupanya dia hanya menggoda para ikan, baru klinting hanya bermain air saja. tidak berenang, karena dia sadar, jika dia menenggelamkan tubuhnya, bisa terkuras isi sungai. namun kesenangan baru klinting itu hanya sebentar. Dewa Baruna datang dengan muka marah.

“Baru Klinting! apa kerjamu disini? bukankah kau harus menjaga puncak gunung wilis?”

Baru Klinting tersadar. ah, timbul penyesalan yang dalam sambil terbayang wajah teman-temannya yang menertawakannya saat kumisnya hilang.

“Ampun Dewa, saya hanya main-main saja. maafkan saya. saya mohon jangan jewer kumis saya”

Sebenarnya Dewa Baruna tidak terlalu marah. dia bisa maklum, Baru Klinting masih kecil. tapi sebagai naga, sejak kecil sudah harus tahu tugasnya, selain bermain, naga kecil tetap harus mengerjakan PR-PR supaya dia bisa pintar dan sakti sehingga dia bisa menjaga daerah dengan baik. Dewa Baruna tetap menghukum Baru Klinting.

“Kamu harus bertapa lagi!”

Dewa Baruna memasang muka galak! Namun Baru Klinting yang baru saja selesai bertapa mencoba untuk menawar tugasnya.

“Bukankah saya sudah bertapa sepanjang 20 tahun?”

Dewa Baruna semakin memasang muka galak! “duh” dalam hati baru Klinting menyesal telah bermain-main terlalu jauh dari daerahnya.

“Kamu harus bertapa dengan melingkari puncak gunung wilis sepanjang 50 tahun!”

Perlu diketahui, 50 tahun bukan waktu yang lama buat naga. mereka punya umur sampai ribuan tahun. mendengar ini, baru klinting hanya bisa pasrah. “Daripada kumisku ilang” demikian katanya dalam hati untuk menghibur diri. dan begitulah, hari itu baru klinting melingkarkan badannya melingkari puncak gunung wilis. Gunung Wilis adalah gunung yang dikenal mempunyai banyak puncak. dan puncak yang dilingkari baru klinting adalah salah satu puncaknya. sepanjang 50 tahun Baru Klinting bertapa. badannya ditumbuhi lumut di ditutupi oleh pohon-pohon besar bahkan ada dililit oleh akar-akar pohon.

50 tahun adalah waktu yang lama buat manusia dan salah satu puncak itu sudah berdiam satu kampung. Kampung itu sebenarnya pindahan dari bawah untuk mencari lahan yang lebih subur. dan Kampung itu dipimpin oleh Ki Ajar Wilis. Ki Ajar Wilis adalah seorang yang bijaksana namun seringkali kepemimpinannya ditentang oleh Ki Wido yang sering iri karena sering kalah beradu kesaktian dengan Ki Ajar Wilis. Suatu hari Ki Ajar Wilis mengumpulkan penduduknya.

“Wahai para penduduk. Aku akan pergi bertapa mencari titah dewata. agar kita tidak lagi pindah dan agar kita bisa menetap selamanya di gunung yang damai ini. pesanku, janganlah kalian masuk hutan terlalu dalam. Semalam aku mendapat bisikan, ada bahaya yang mengancam di dalam hutan.”

dan begitulah, Ki Ajar Wilis pergi di hari itu namun rupanya pesan Ki Ajar Wilis tidak dipedulikan oleh Ki Wido.

“Jangan kalian percaya cerita kakek tua itu.”

Penduduk yang sudah tahu tabiat Ki Wido tidak mempedulikan dan segera angkat kaki, namun sebelum para penduduk pergi, Ki Wido mencegahnya.

“Tunggu dulu penjelasanku. begini, besok adalah purnama, sudah lama kita tidak merayakan purnama indah sambil berpesta, jadi hari ini sebaiknya kita masuk hutan dan berburu kijang untuk pesta”

Penduduk yang semula tidak peduli begitu mendengar kata pesta langsung setuju dengan ide Ki Wido. Pesta memang hal langka yang ada di kampung itu. segera mereka beramai-ramai mengambil peralatan. diantara para penduduk ada satu yang tidak setuju, yaitu Nyi Latung. Seorang janda tua mencoba mencegah para penduduk desa.

“Ki Ajar sudah berpesan pada kita, sebaiknya kita menuruti kata-katanya”
“Aaaaaah, sudahlah nenek tua, kamu di rumah saja! kamu juga akan dapat bagian. sudahlah tunggu di rumah!”

dan begitulah, Nyi Latung merasa sangat prihatin melihat perilaku para penduduk yang ditinggalkan oleh pemimpinnya. singkat kata, para penduduk sudah mengubek seluruh hutan namun belum menemukan satu buruan pun. ketika hari sudah mulai sore, mereka putus asa.

“Gimana nih ki?”

Ki Wido tampak kesal dan membanting goloknya. Golok itu menancap ke tanah yang ditumbuhi lumut. ajaib, tanah itu mengeluarkan darah. Ki Wido kemudian memeriksa. berbinarlah matanya.

“Teman-teman, rupanya ini yang dikhawatirkan oleh Ki Ajar. Ada Ular besar. mari kita santap saja dagingnya, lihat!”

Ki Wido kemudian membacok berkali-kali. melihat itu para penduduk beramai-ramai mengayunkan goloknya. dan dengan daun-daun mereka membungkus daging baru klinting yang bertapa yang mereka kita adalah ular besar. Hari itu adalah hari terakhir baru klinting bertapa, dan sore ini adalah waktunya dia lapor pada dewa baruna. menghadapi para penduduk yang melukai badannya Baru Klinting hanya diam. Baru klinting harus sabar menghadapi ini. walaupun para penduduk desa telah membawa dagingnya, dia mencoba bertahan padahal yang diambil para penduduk bukan main banyaknya, sangat banyak, sampai harus dipikul sampai beberapa pikulan.

***

Malam purnama itu para penduduk berpesta. Daging baru klinting dipanggang, disate dan dibuat berbagai macam masakan.

“Hari ini kita berpesta! ancaman dalam hutan itu sudah kita singkirkan!”

Demikian ki Wido berteriak-teriak yang disambut oleh para penduduk. Akan halnya Nyi Latung, dia hanya berdiam di rumah. Janji para penduduk untuk memberikan daging tidak ditepati. ditengah-tengah pesta pora tersebut tiba-tiba datang seorang anak kecil yang menangis minta daging. melihat itu, Ki Wido langsung menghardiknya.

“Heh! anak Kecil! kamu telah mengganggu pesta! sana pergi, kalau ingin daging sana cari sendiri ke hutan!”
“Saya Lapar paaaak”

Bukannya diberi, anak kecil tersebut digelandang sampai ke jalan. Nyi Latung yang akan menutup jendela tampak iba, segera dia mendekati anak kecil itu. Nyi Latung segera membimbing anak kecil itu untuk masuk ke rumah. dengan cepat Nyi latung menyiapkan makanan.

“Makanlah, walau seadanya.”

Anak kecil itu mengangguk dan segera makan dengan lahap. Anak kecil itu memang tampak lapar. Nyi Latung beberapa kali menepuk-nepuk punggung anak kecil itu supaya tidak tersedak. dan dalam waktu singkat makanan yang tidak seberapa itu habis ludes.

“Nek, saya masih lapar”

Nyi Latung meneteskan air mata. dia sudah tidak punya makanan lagi. melihat Nyi Latung menangis, anak kecil itu tampak iba.

“Nek, maafkan saya. biarlah saya minta lagi pada penduduk desa yang berpesta. tapi nek, saya berharap nenek mau percaya sama saya. nenek mau percaya dan melakukan apa yang saya katakan?”

Nyi Latung tampak bingung dengan kata-kata anak kecil itu tapi dia mengangguk, “Ah untuk menghibur hatinya” begitu dalam hati Nyi Latung.

“Nenek melihat lesung untuk menumbuk padi itu? nah saya mau meminta daging lagi, nanti saya bagi sama nenek, syaratnya nenek harus naik lesung itu. ya nek?”

Karena ingin menghibur hati anak kecil itu, akhirnya Nyi Latung menurutinya. Anak kecil itu kembali ke pesta. di tangannya ada sebatang lidi. dia menancapkan lidi itu ke tanah.

“Hai para penduduk yang kuat, aku menantang kalian”

Mendengar itu, para penduduk segera berkerumun.

“Ayo siapa yang berani taruhan, siapa yang kuat mencabut lidi ini? kalau kalian tidak kuat maka aku minta daging.”
“Kalau kami kuat gimana?”
“kalian bisa membunuhku”
“Ah sombong sekali! hati-hati aku akan membunuhmu”

Satu orang mencoba mencabut tapi ternyata tidak kuat. dua orang, tiga orang sampai yang terakhir Ki Wido yang terkenal sakti tidak berhasil. Anak kecil ini tampak gembira menerima sebungkus daging sambil mencabut lidi itu dan hanya sekali sentil, lidi itu tercabut. para penduduk tampak heran tanah di sekitar lidi itu tampak mbel (basah dalam bahasa jawa) dan lama kelamaan menjadi besar dan sangat besar. penduduk pontang panting menyelamatkan diri namun arusnya sudah sangat besar. dan dalam sekejab kampung mereka sudah tenggelam. Nyi Latung seperti tak percaya melihat itu semua di atas lesungnya. dari kejauhan tampak sebuah bayangan besar mendekat.

“Terima kasih Nyi Latung, jika ada apa-apa panggil aku Baru Klinting, aku yang menjaga danau ini”

Begitulah kisah naga kecil yang akhirnya mendiami sebuah danau. Danau ini sangat indah, berada di Ponorogo, bernama Danau Ngebel dari kata mbel. danau yang masih alami dan sangat sejuk